Megapolis atawa Megalopolis
berikut ini posting g di milis BAHTERA ttg kata ‘megalopolis’. G menulis gara-gara ada Prof. ITB nulis ttg kata ini di kolom Kompas (kalo ga salah 18 Maret kemarin), cuma kok tulisannya ga jelas banget gitu. Setelah g posting, komentar salah satu pemilis cuma "prinsip serapan pertama bahasa Indonesia, demikian Pusat Bahasa, adalah bhs Inggris" bukan Yunani mksdnya. Well, kalo ente make kata yg berbau Yunani, ya pakailah tata bahasa Yunani yg baik.
Oh, btw, agar teks Yunaninya keliatan, mungkin atur encodingnya ke Greek. Enjoy
Banyak orang lebih akrab dengan kata megapolis karena terbiasa dengan rumus sederhana: ‘mega’ = besar, dan ‘polis’ = kota, jadi kota + besar = megapolis. Padahal cerita yang sebenarnya tidaklah sesimpel ini. Ajektiva μέγας (megas) kerap memusingkan pembelajar pemula bahasa Yunani klasik karena deklensi kata ini memanfaatkan dua akar kata, yaitu μεγα- dan μεγαλο- sehingga harus dihafalkan tersendiri. Deklensi feminin μέγας kebetulan menggunakan akar kata μεγαλο-. (Kebetulan pula, akar kata μεγαλο- inilah yang sukses bertahan; di dalam bahasa Yunani modern, ajektiva μεγάλος [meγalos, γ dibunyikan hampir seperti gh] kini menjadi penerus sekaligus ‘cucu’ dari ajektiva μέγας). Dalam pembentukan kata majemuk, akar kata μεγαλο- ini pula yang digunakan. Contohnya, ya μεγαλόπολις (nomina feminin, megalopolis). Kata ini digunakan sebagai epitet bagi kota-kota besar. Dalam literatur klasik, epitet μεγαλόπολις dikenakan kepada kota-kota besar seperti Atena (Pindaros, Ode-ode Pythia 7.1, taut: http://www.perseus.tufts.edu/cgi-bin/ptext?lookup=Pind.+P.+7.1), Sirakusa (Pindaros, Ode-ode Pythia 2.1, taut: http://www.perseus.tufts.edu/cgi-bin/ptext?lookup=Pind.+P.+2.1), Troya (Euripides, Wanita-wanita Troya 1292, taut: http://www.perseus.tufts.edu/cgi-bin/ptext?lookup=Eur.+Tro.+1287), dan Aleksandria (Papirus Leipzig/PLipsiae 45.13, taut: http://www.perseus.org/cgi-bin/ptext?doc=Perseus%3Atext%3A1999.05.0153&layout=&loc=45).
Dari terang ini, kata megapolis bisa jadi ‘salah’, bisa juga ‘benar’. Kalau riwayat kelahiran kata ini dimengerti sebagai neologisme baru (berani sumpe?) hasil ‘persenyawaan’ antara ‘mega’ dan ‘polis’, mungkin kata megapolis sah-sah saja bila digunakan. Akan tetapi, bila kata ini diakui sebagai kata serapan langsung dari bahasa Yunani klasik, jelas tidak pernah ada kata ‘megapolis’ dalam perbendaharaan kosakata bahasa Yunani klasik. Pembentukan kata majemuk, apalagi dengan nomina yang bergender feminin, ya seharusnya/lazimnya menggunakan akar kata μεγαλο-. Saya pribadi lebih suka dengan megalopolis karena alasan-alasan di atas. Akan tetapi, kalau Anda beralasan toh bahasa Indonesia bukan bahasa Yunani klasik, ya silakan saja