Alkisah, waktu gue masih nyusun skripsi (dan jauh lebih kere dari sekarang), g cuma bisa memandangi bibliografi yang termuat dalam buku2 di perpus kami, hiks, dan memperhatikan singkatan2 keren di belakang judul-judul artikel yang dikutip, JSNT (Journal for the Study of the New Testament) hiks, JBL (Journal of Biblical Literature), CBQ (Catholic Biblical Quarterly), dll. Di perpus STT g nggak ada koneksi internet, langganan jurnal pun masih sedikit. G masih ingat waktu itu sempat berkata kepada diri sendiri: kapan g punya akses seperti mereka …
Such a cruel cruel world!
(BTW, terj. bebas judul post ini: kagak bisa kagak pasti jatuh cinta deh sama jurnal ilmiah versi data elektronis, n blog ini ditulis dari sudut pandang seseorang yang menekuni bidang penafsiran Perjanjian Baru. So, kalo bidang elo kebidanan atau ethical hacking atau sosio-patologi gila pemecahan rekor khas bangsa kita yang tercinta ini, yah, you can make the adjustments yourself lah)
Hmmm, tapi, kenapa baca jurnal? Berikut ini beberapa alasannya, versi g:
- waktu yang dibutuhkan untuk membaca sebuah artikel jelas lebih sedikit ketimbang membaca satu judul buku! Kalo elo lagi dikejar deadline ngumpulin makalah atau naskah, jelas lebih enak baca 10-20 halaman ketimbang ratusan, bukan? Ud gitu sebagian artikel biasanya dilengkapi ringkasan, abstract!! Buku biasanya memang dilengkapi teks penjelas di sampul belakang, tapi trust me, isinya pasti banyak iklan. Soalnye kerjaan g emang bikin teks-teks kayak begini LOL.
- biasanya jurnal-jurnal ilmiah itu jadi media bagi orang-orang yang sedang menyusun disertasi untuk memaparkan tesis atau hasil riset sementara mereka dan memancing komentar, kritik, dan umpan balik dari rekan-rekan seprofesi/sepeminatan. Artinya, kita bisa mengintip apa yang sedang (dan akan) terjadi di suatu bidang ilmu dari berbagai artikel yang diajukan. Buku biasanya sedikit terlambat memuat hasil riset seseorang, paling cepat 2-3 tahun setelah si penulis keliling ke sana ke mari presentasi, kuliah umum dll. Sepanjang pengamatan g yang lebih suka tidur siang daripada baca jurnal ini, jarang ada penulis langsung mempublikasikan hasil risetnya langsung via buku tanpa memuat versi ringkasnya di sebuah jurnal tertentu. Setahu g memang Richard Bauckham langsung menerbitkan tesisnya ttg Injil2 yg ditujukan kepada komunitas Kristen secara umum, bkn kepada komunitas tertentu dalam buku The Gospels for All Christians (Eerdmans, 1998, duh pesanan g dari Dovebook.com msh belum nyampe juga <<keluh>>), tanpa ada tanda2 dan bau2nya di jurnal2; padahal artikel yg kontra langsung bertumbuhan bak jamur di musim hujan (di harddisk g aja ud nongkrong 4, baru kebaca satu). Tapi yang kayak gini, sekali lagi, jarang kali ya.
(Yang paling menyebalkan, ya buku kumpulan artikel seorang penulis tertentu: bukunya terbit tahun 2004, misalnya, tapi ilmu yg kita dapatin bisa aja terbentang dari artikel terbitan 60an hingga 1 nyempil bertahun 2003. Tanggal terbitnya sih keren, tapi tesis yg dipaparkan bisa jadi ud keburu tengik pas bukunya terbit)
- banyak ide gila yang ga bakalan diterbitkan jadi buku karena penerbit merasa prospek penjualan suatu manuskrip kurang menjanjikan. Akibatnya, ide atau tesis gila ini mungkin cuma pernah nangkring di jurnal. Kalo Anda suka dengan ide-ide gila yang jelas-jelas nekad melawan arus dan konsensus umum selama ini, lebih baik merhatiin judul2 jurnal, siapa tahu ada yang cocok.
Nah, kalau dulu jurnal cuma bisa diakses kalau kita berlangganan atau membeli versi cetak kertasnya, puji syukur kepada Tuhan, Haleluya, All glory be unto Him, jurnal juga bisa diakses via internet. Dan beberapa malah dapat diakses secara gratis! Sekali lagi, Haaaleeeluuuyaaa. Yang tidak gratis pun, ada beberapa yang menyediakan fasilitas ringkasan/abstract gratis atau paling tidak judul dan daftar isi. Memang yang namanya jurnal di mana-mana pasti tergolong mahal. Tapi, di tengah-tengah komersialisasi pendidikan seperti sekarang ini, penyebarluasan informasi seperti ini justru menjadi angin segar buat kita2 yang kere ini.
Ada tiga format yang biasanya diberikan:
- fail gambar (biasanya .gif), artinya teks jurnal di-scan/dipindai lalu dikonversi menjadi sebuah fail gambar. Nggak enaknya, kita ga bisa mencari (dengan fasilitas find atau search) kata-kata tertentu. Paling-paling cuma judulnya doang. Mengunduh (download) artikel2 berformat ini pun biasanya lebih susah; Anda perlu webspider atau webcrawler macam JOC Webspider 3.72 (bayar, tapi bajakannya jg ada di situs tertentu) atau HT Track Website Copier (http://www.httrack.com/, software keren, gratis pula, tp ada situs tertentu yg cuma mempan sama JOCW, ada yg cuma ama HTTW. Cobain sendiri dah. BTW, g bkn hacker, cm lamer yg gemar ngopi website).
- format .html, .txt, .doc atau lainnya di mana tampilan teks disesuaikan dengan cara penyimpanan dan transfer teks data umum yang digunakan perangkat lunak/software. Biasanya, teks didapatkan dari memindai/men-scan cetakan artikel jurnal, atau mengkonversi data dari fail-fail format pra-cetak. Enaknya, kita bisa mencari kata kunci, ga enaknya, bacanya suka kurang enak, dan pas di-print juga kurang rapi. Kan memang tujuan utamanya untuk dibaca di monitor, bukan? Kadang ada juga jurnal yang tidak memberikan no. halaman pada edisi cetaknya. Ini, tentu saja, kurang menguntungkan bagi Anda yang gemar berburu referensi catatan kaki namun bersekolah di institusi kolot atau diampu oleh dosen kolot yang masih beranggapan referensi2 di internet itu main2 semua dan nggak ada yang bener. Basi dah!
- format .pdf atau format lainnya yang mempertahankan layout artikel sebagaimana edisi cetaknya. Ini jelas yang paling enak, karena memudahkan proses pengindeksan, pencarian, mempertahankan paginasi sebagaimana di edisi cetak, gampang diunduh dari situs, mudah disimpan, dll. Hidup terasa indah deh kl bisa dapat artikel format ini. (Beberapa artikel .pdf gratisan, biasanya dari website si penulis sendiri, memuat artikel yang pernah dimuat di jurnal tertentu, tapi bukan dalam format edisi cetak di jurnal, melainkan konversi dari .doc biasa/versi mentah si penulis. Kl dapat yg begini, yah jangan kecewa ya).
So, masa depan bagi kita tampaknya lumayan cerah. Walau mungkin kita nggak mampu berlangganan Journal of Biblical Literature misalnya, tapi versi .pdf gratisannya ada, selalu ada edisi2 3 tahun ke belakang (lewat 3 tahun ga bisa diakses lagi). Ga semuanya memang, tapi rajin2lah kunjungan ke situs2 jurnal yg tidak gratis (antara US $10-25 per artikel, pake sistem pay per view). Jurnal2 seperti Novum Testamentum, Journal for the Study of the New Testament, New Testament Studies, Zeitschrift für Neutestamentliche Wissenschatf und Kunde der Alteren Kirche dll. pasti ada edisi contoh khusus yang bisa diakses dan diunduh tanpa biaya, dan kadang-kadang, webmaster jg manusia dan bisa saja tiba2 seluruh artikel jurnal yang tadinya bayar bisa diakses gratis (ini pernah terjadi sama g
). So, don’t you just love E-scholarly journals!? I do! Salam damai.